Tertarik dengan kawasan bersejarah sekaligus menyaksikan panorama alam yang mengesankan? Morotai jawabannya.
Pulau Morotai berada di Halmahera Maluku Utara. Dahulu pada perang Dunia II pulau ini jadi pangkalan militer sekutu. Tujuh pangkal udara sisa-sisa peninggalannya bisa kita saksikan di pulau Morotai. Dermaga tua, ada transmeter air kaca, juga sebuah meriam yang tak utuh lagi adalah rupa sejarah yang bisa dijejaki di Pulai Morotai. Terdapat pula sebuag Gua bernama Gua Nakamura. Gua ini jadi persembunnyian sejumlah tentara Jepang setelah mereka takluk dari Sekutu. Nakamura adalah nama seorang tentara Jepang yang bersembunyi di tempat itu selama 30 tahun, dari 1945 sampai 1975.
Morotai terletak di Provinsi Maluku Utara. Dari Dermaga di Kota Baru Ternate, kita menumpang speedboat menuju Sofifi, Halmahera, selama satu jam. penyebrangan masih harus dilakukan usai tiba di Sofifi. Kali ini menuju Tobelo yang memakan waktu tiga jam. Turun di pelabuhan kita dapat kembali menumpang feri ke Morotai. Bila feri sudah berangkat saat kita baru saja tiba, kita masih berkesempatan menunggu speedboat yang akan mengangkut ke Morotai. Tapi karena tidak terjamin ada tidaknya, sebaiknya mencari jadwal keberangkatan Feri.
Lama waktu sampai tiba di Morotai adalah satu setengah jam. Selama perjalanan kita akan melihat belasan pulau-pulau kecil yang sebagiannya tak berpenghuni. Semua garis tepi pantainya berpasir putih dan bersih. Benar-benar kawasan yang belum terjamah.
Pulai Morotai berada tepat pada garis khatulistiwa, berbatasan langsung dengan samudera Pasifik. Karenanya udara dan cuaca disana panas menyengat. Meski begitu wisata alam kawasan ini sangat menjanjikan. Terumbu Karang dapat kita lihat dengan mata telanjang. Bila ingin menyelam atau snorkling hati-hati dengan bulu babi yang lumayan banyak jumlahnya.
Pulau yang pernah jadi markas besar sekutu ini akan mengadakan hajatan besar, Sail Morotai 2012 bulan Agustus 2012. Diikuti peserta dari berbagai mancanegara, perhelatan besar ini sebelumnya diadakan di Banda (2010) dan Bunaken (2009). Disamping untuk mempromosikan kawasan wisata ini, masyarakat luar juga diajak untuk kenal lebih dekat dengan pulau bersejarah ini.
Kontributor: Nurul Wachdiyyah