Biasa menonton adegan perang dari layar kaca tv? Sekarang saatnya menyaksikan adegan perang yang sesungguhnya di ujung timur Indonesia. Perang suku di Lembah Baliem, Papua, terjadi tiap tahun sekali pada bulan Agustus. Pria-pria dari masing-masing suku saling mengejar dan membidikkan panahnya. Mereka berteriak sambil mengacung-acungkan senjata di tangannya sementara wanita dan anak-anak berlarian menyelamatkan diri.
Tidak usah takut menonton perang di Lembah Baliem ini. Sesungguhnya perang tersebut adalah suatu atraksi wisata tahunan yang diperagakan oleh Suku Dani dalam acara Festival Budaya Lembah Baliem di Wamena, Papua. Festival yang berlangsung selama tiga hari ini di bulan Agustus ini biasanya diikuti oleh sekitar 26 suku. Masing-masing kelompok berjumlah 50 orang. Atraksi perang berupa tari-tarian. Selain tari perang, ada enam acara lainnya. Salah satunya pertunjukkan musik tradisional untuk menghibur seluruh pengunjung (Pikon). Alat musik yang dimainkan ini memunculkan suara-suara yang nyaris sama dengan suara binatang dan tidak semua orang Papua mampu memainkannya. Karapan sapi, lomba pacuan babi, lomba menganyam dan acara lainnya patut disaksikan.
Perang sebenarnya bagian dari kehidupan Suku Dani dan suku lainnya yang menghuni sekitar lembah Baliem. Bagi mereka, perang adalah tradisi yang melambangkan kesuburan dan kesejahteraan, bukan hanya mempertahankan atau memperebutkan sesuatu. Panen dan ternak babi akan berhasil bila mereka melakukan tradisi perang tersebut.
Sesekali tidak usah tanggung-tanggung bila mencari petualangan. Lembah Baliem bisa jadi tujuan. Perjalanan menuju lembah ini relatif tidak mudah. Penerbangan dari Jakarta ke Jayapura dilanjutkan dengan penerbangan ke Wamena, sebuah kota yang dikelilingi perbukitan hijau. Tiba di Wamena kita tinggal memutuskan untuk mencapai Lembah Baliem dengan trekking atau kendaraan. Selama perjalanan kita akan merasakan petualangan yang sebenar-benarnya. Dimulai dari bermalam di Honai (rumah tradisional Suku Dani yang sangat unik), pemandangan pagi hari yang berkabut tebal, menyusuri jalan setapak diantara hijaunya pepohonan dan bukit-bukit yang berhiaskan jurang, menyebrangi beberapa jembatan gantung dan jauh dari peradaban modern. Lembah Baliem akan jadi tujuan yang paling berkesan dalam hidup.
Kontributor: Nurul Wachdiyyah